Orang bilang cinta itu Maha Daya, Maha Besar.
Cinta
apa? Cinta kepada siapa? Urusan manusia dengan manusia adalah perkara
egoisme belaka. Cinta-cintaan manusia itu, hanya kedua belah pihak yang
mencinta saja yang merasa. Buatku cinta sesama manusia itu hal remeh.
Yang bahkan ayam pun tak mau. Sedang cinta egoisku ini bertuan pada
musuh alam semesta. Aku masih ingat betul satu percakapan dengan
musuh alam semesta itu.
“Kamu mau kemana sayang?”
remang Jakarta dini hari di sebuah apartemen di saat Adam memanggilku dengan panggilan sayang.
Sambil terus mengepak barang aku berkata. “Cianjur.”
“Kenapa? Ada apa disana?” tanya Adam kembali.
“Kamu masih tanya? Kampung bapakku setengah digusur oleh orang macam kamu!!” Jawabku tegas.
“Hahaha... Alina,
ayo realistis! Kebutuhan kayu kita mencapai 350 meter kubik di tahun
2014 ini. Aku sudah lakukan regenerasi. Penanaman kembali di setiap lahan
yang ku tebang, lisensi pemerintah sudah ku kantongi, kita tinggal menjalankan misi ini saja dan kita akan mengeruk keuntungan yang sangat besar.” Ujar Adam padaku.
Laki – laki
yang sudah 6 tahun jadi pacarku itu membuat darah ku naik ke ubun-ubun. Nada suara ku meninggi. Jadilah kami orang setengah gila yang
saling berteriak pada pukul tiga pagi.
“Bandingkan lisensi
pemerintah sialan yang kau kantongi itu, dengan lahan yang kau babat habis dan uang
yang kau sogok untuk mendapatkan lisensi itu! Kau yang seharusnya
berpikir realistis! Keluarkan uangmu untuk memperbaiki lahan yang kau
rusak, ekosistem tumbuhan, hewan yang kau rusak rantai kehidupannya! Mana bisa kau
regenerasi itu semua, hah?!!” Ucapku dengan kesalnya.
Percakapan itu terhenti seperti
terhentinya hubungan kami berdua. Sejak saat itu aku meninggalkan Adam
beserta urusan busuknya. Dia adalah pewaris tahta perusahaan berbagai
bidang yang merusak ekosistem alam. Kelapa sawit, kontraktor kayu,
pabrik kertas, dan entah apa lagi.
Aku bergegas mengepak barangku.
Tiga koper sudah tak habis-habis barang ini ku kemas. Sial!
Lalu sebuah tangan merengkuhku dari belakang.
“Enam tahun Aliana, Enam tahun! Kita akan akhiri enam tahun begini saja?”
Hal remeh ini lagi.
“Jangan
kau kira aku tak mencintaimu, Adam. Tapi ayahku hilang di pedalaman
Cianjur. Meniliti satu demi satu tumbuhan di hutan yang akan kau babat.
Kalau bukan karena jurnal ayah yang kutemukan disembarang tempat,
mungkin aku tak pernah tahu dosa besar macam apa yang telah kamu dan
keluargamu buat.”
“Lantas apa aku boleh buat? Kebutuhan manusia semakin kompleks.”
“akan
beda cerita kita kalau kau meregenerasi itu sejak awal. Mungkin jika
sebelum kau lahir lahan-lahan yang kau rusak diregenerasi, kita bisa
melihat pohon-pohon itu meneduhi kita. Kuberi kau waktu tiga tahun
lalu. Lalu apa kau perbuat? Tak ada lahan yang jadi baik saat ini. Semua
itu omong kosong!”
Mendadak aku tidak dalam suasana mengepak. Barang-barang kurasa sudah cukup. Kulepaskan tangan itu dengan kasar.
“Disana
pintumu. Keluar!” Adam memandangku lama. Aku tak peduli lagi bahkan
pada tatapan mata nya yang putus asa. Mendadak aku rindu ayah. Jika aku
tak pergi, mungkin besok lusa lahan dimana sejarah terakhir tentang
ayahku akan digusur orang macam Adam. Pohon-pohon ditebangi, berganti
pabrik, regenerasi tak jadi, gedung-gedung makin tinggi, tak ada
tempat lagi bagi tumbuhan. Pokok yang ayahku perjuangkan hingga
hilangnya ia beserta sejarahnya. Aku kehilangan ayah demi sesuatu yang
ia perjuangkan. Menjaga ekosistem tumbuhan yang otomatis akan menjaga
ekosistem yang lain. Manusia, hewan, dan alam semesta. Maka kepergianku
ke Cianjur adalah demi meneruskan apa yang ayah perjuangkan. Mungkin itu
juga yang akan mengantarkanku menemukan ayah.
Pagi –
pagi sekali aku menemui makam ibuku. Berpamitan dan memohon restu.
Dengan hati yang patah sekaligus keyakinan dan mimpi yang menguatkan
aku. Dengan batu nisan aku berdialog. Lalu pergi sebelum mencapai
klimaks. Tangis kutahan, sebelum aku berubah pikiran. Aku baru tahu
betapa sesaknya mencapai mimpi itu. Mimpi ku dan ayah.
Jadi disinilah aku sekarang.
Masih
di hutan alami pedalaman Cianjur. Meneliti satu-satu lembaran jurnal
yang jadi warisanku satu-satunya. Eksplorasi besar-besaran telah
ku lakukan. Lewat media cetak, elektronik dan segala bentuk media untuk
melakukan penyuluhan dan membuka selebar-lebarnya mata. Aku tinggal di
rumah yang konon dulu milik Firman, tokoh konservasi Indonesia yang
namanaya tak sempat masuk sejarah. Keburu hilang dimakan mimpinya
sendiri. Ayahku.
Kadang aku masih merindukan hal remeh
soal cinta-cintaan dengan Adam. Dia masih mau merajai seluruh hutan
terkonservasi maupun tidak. Masih serakah dan tak melakukan apa-apa.
Seperti cintaku yang masih. Tapi aku sama sekali tak menyesal. Aku
rindukan ayahku.
Aku belajar banyak, banyak sekali.
Tentang bagaimana manusia berkorelasi dengan alam, menjaga
keberlangsungan hidupnya. Tentang alam yang menjaga keberlangsungan
hidup manusia. Menyuplai oksigen dan menetralisir O2 menjadi udara layak
hirup ditengah pencemaran dimana-mana.
Aku tahu
antara aku dan Adam masih ada cinta yang dipisahkan keegoisan masing-masing. Tidak, tidak. Aku tak egois, aku hanya berusaha membersihkan
dosa besarnya dengan membantu memperbaiki apa yang ia rusak. Aku tahu
selama masih ada aku ditempat dimanapun lahan yang hendak ia habisi, ia
tak akan berani. Jadilah aku berpindah-pindah sesuai proyek
perusahaannya.
Ku curi-curi data tentang eksekusi
lahan, ku datangi tempat – tempat rawan gusur. Ku pelajari karakter dan
sikap tumbuhan. Mana rela mati ditebang, mana akan murka jika
dimusnahkan. Sudah lima tahun aku melakukan pekerjaan gila. Di biayai
pemerintah demi mendapat jawaban dariku. Tentang mana – mana saja lahan
dan pohon yang memiliki sikap rela mati.
Pernah suatu
kali mereka tak menurut apa kataku lalu bencana datang. Hutan bogor
gundul, banjir Jakarta kian meninggi. Tempat – tempat tak biasa banjir
kebingungan menghadapi air yang datang memberi kejutan. Pabrik – pabrik
tutup sementara, pabrik kertas milik Adam salah satunya. Mereka kapok
tak menuruti kataku. Ucapanku bak ucapan seorang Ibu yang kelak jadi
do’a. Tak ada lagi pelebaran lahan kelapa sawit. Yang ada hanya
bagaimana cara mengoptimalkan produksinya.
Jalanku tak
semulus itu. Kadang aku harus dimusuhi orang berduit yang menyogok
pemerintah yang kasih ijin membabat tanaman sana sini. Sesulit itu di
Indonesia yang wilayah nya tidak sampat 10% wilayah dunia.
Lahan
– lahan dibabat habis diganti gedung – gedung tinggi berkaca berbahaya.
Tak ada kata membabat gedung – gedung dan menggantinya dengan
perkebunan pohon – pohon. Tumbuhan juga punya rasa. Ia bisa mendengar
dan bertindak. Apa perasaan mereka melihat komunitas nya digerus terus –
terusan?
Lagi – lagi perkara manusia adalah hal
keegoisan. Mereka tak akan memikirkan hal – hal yang tak ada sangkut
pautnya dengan kepentingannya sendiri. Pernah suatu kali aku di demo
oleh masyarakat di pedalaman hutan kalimantan.
Hutan
itu bersinggungan langsung dengan perkebunan kelapa sawit. Pelebaran
lahan jadi masalah utama. Perusahaan kelapa sawit itu tahu betul
kelemahan manusia. Mereka mencampur adukan kerusakan lingkungan dengan
kesejahteraan yang diperlukan halayak. Masyarakat mau menyetujui
perluasan wilayah kelapa sawit demi perut mereka dan anak – anak yang
lapar.
“Lalu apa kau bisa memberi kami makan sampai anak – anak
kita besar?” ucap seorang kepala dusun langsung menuju ulu hatiku.
Pertanyaan yang sama kuajukan juga pada diri. Aku tak cukup ilmu dan
waktu. Waktuku tak banyak mencari solusi. Uangku tak cukup memberiku
modal. Aku pergi dari perkampungan itu dan mencari banyak uang untuk
membeli sejumlah babi, kerbau dan hewan ternak lainnya. Siang malam
menjajakan proposal. Hingga terkumpul uangku.
Kubeli beberapa babi
dan kerbau, kubuatkan kandang dan ilmu merawat hewan ternak. Beberapa
masyarakat tak patuh solusiku. Penghasilan dari hewan ternak tak cukup
membuat kenyang anak – anak dusun yang kepalang banyak. Dan sikap
manusiawi yang tak pernah puas hanya dari hasil hewan ternak bergotong
royong melakukan permohonan perluasan wilayah kepada pemerintah. Suasana
jadi kacau ketika dihadapkan pada orang – orang lapar. Aku kehabisan
ide.
Suatu sore kepala dusun menangkapku tengah
merenung di aliran sungai. Mencari – cari ide sampai ke sela – sela otak
terkecil. Aku tak pernah sedekat ini bertatapan langsung dengan pria
menuju tua itu, dibalik kelopak tebal matanya, kumis putih dan rambut
ikal sebahunya dia bermata teduh. Gerak geriknya menenangkan,
mencerminkan seorang ayah. Aku jadi ingat lagi pria miliku yang seperti
ini.
“kita memang tidak bisa memaksakan apa dimau.” Aku masih dengan posisi yang sama merasakan atmosfir seorang ayah.
“aku
bukan tak sadar tentang kehidupan semesta. Dulu ada pria setuaku,
badannya tegap. Dia teman baikku. Pekerjaannya sama sepertimu. Hidup
berdampingan dengan alam. Tapi sekarang entah dimana.” Aku masih hanyut
dan menunggu kalimat – kalimat berikutnya.
“Dia anak sebatang
kara, pergi dari panti asuhan di pulau jawa. Dan kemari tanpa ilmu. Dulu
alam kita tak sepeti ini. Kebun kelapa sawit belum sampai daerah sini.
Masih hanya beberapa petak. Tapi manusia – manusia kota melihat lahan
ini bak tambang emas. Mereka sadar bahwa lahan ini sumber kekayaan,
keuasaan mereka. Diperluaslah perkebunan kelapa sawit ini. Sedangkan
saya melihat hal itu bukan sesuatu yang bagus.” Dia menyalakan cerutu
keduanya.
“tapi apa daya, saya tak punya alasan logis untuk
menolak dan menghimbau desa. Akhirnya saya cerita soal kekhawatiran pada
anak rantau itu. Semangatnya tinggi sekali. Dia pergi berbulan – bulan
dan kembali dengan setumpuk buku dan segenggam ilmu. Suatu malam dia
mengumpulkan warga desa, dengan gambar warna warni dia menjelaskan
resiko – resiko perluasan lahan. Sampai akhirnya semua penduduk dusun
sepakat untuk mendemo penolakan. Perluasan lahan berhasil di gagalkan.
Anak rantau sebatang kara itu akhirnya saya jadikana anak, semua
masyarakat dusun menghormatinya. Waktu itu umurnya baru duapuluhdua.
Masa depannya seharusnya masih panjang. Apalagi dengan otak secemerlang
dan semangatnya sepert itu tidak heran Firman dapat kerja di Papua.”
“Papua??”
aku sekarang baru sadar orang yang ia biacarakan adalah ayahku. Seumur
hidup dia jadi ayahku, aku tak pernah tahu kakinya pernah ada disini.
Lalu jejaknya pergi menuju Papua.
“Iya, Papua. Kerja di
pertambangan. Dia bilang akan sambil pelan – pelan memperbaiki rusaknya
lingkungan akibat pertambangan adi daya itu. Mencari ilmu bilangnya.”
Cerutu
itu ia hisap pelan – pelan demi mengulur waktu. Tembakau disini sangat
berharga. Waktu diukur dengan satu dua batang rokok. Bertemu sapa di
warung kopi perbatasan kampung. Melihat harga diri dari rokok. Ketika
pria – pria yang kebanyakan sudah beranak itu menghabiskan satu bungkus
rokok saat itu juga, pertanda dia sedang banyak duit. Baru gajihan atau
menang judi. Semakin sedikit rokok yang mereka habiskan, semakin kita
tahu kemapanan ekonomi mereka.
“tapi sekarang Firman sudah tak
pernah kembali ke kampung. Dia membekali kami tentang resiko – resiko
perusakan alam, tapi tidak cukup memberi ilmu tentang perubahan jaman,
kenaikan harga dan kenaikan nafsu konsumtif manusia. Masyarakat yang
beranak pinak itu beranak lagi. Regenerasi. Orang – orang dulu sudah
mengikuti orang – orang sekarang. Orang – orang tua tidak punya pakem.
Sama halnya dengan saya. Idealisme anak laki – laki pungutan saya
melonggar. Perut – perut lapar lebih nyaring kedengaran dibanding
setumpuk ilmu yang di amalkan. Sulit, nak.”
Aku mengilhami betul
kata – kata kepala dusun ini. Sulit. Ya sangat sulit membuat orang –
orang tetap sadar bahwa ekosistem dunia perkara tumbuhan sangat
berkorelasi dengan keberlangsungan hidup umat manusia. Kalau bencana
sudah dimana – mana, kemana kita bisa pulang?
Sambil
aku mengeluarkan setumpukan kertas buram dengan banyak warna. “ya, semua
orang berpegangan pada perut – perut lapar, tembakau dan keserakahan.
Dulu aku diajarkan ayahku mencintai alam seperti mencintai anak sendiri.
Meskipun rahimku belum mengeluarkan sekepala anak yang ku kandung, tapi
kasih sayang ayah pada anaknya sangat kurasakan benar – benar.” Kepala
dusun itu setenga menganga. Matanya menelanjangi kertas – kertas yang
kupegang.
“Pak....” setengah meraung aku berkata – kata.
“apa
bisa diperbuat jika manusia tak lagi mencintai alamnya seperti anak
sendiri. Apa bisa diperbuat jika ternyata seorang ayah lebih mencintai
perutnya yang lapar ketimbang alam yang katanya seperti anak?”
Lalu yang kuingat kepala dusun itu menatapku lama. Matanya berkaca, cerutunya jatuh. Dan yang kutahu dia pergi dengan malu.
Bagaimana
tidak, jika aku jadi dia, akupun malu. Panjang lebar menceritakan soal
anak pungut kebanggaannya. Lalu keteguhannya luntur seirama dengan
hilangnya laki – laki bernama Firman. Kepala dusun itu yang mengajarkan
ayahku tentang pentingnya lingkungan, hingga ayahku berlari sejauh ini.
Kepala dusun adalah pakem ayahku. Tapi apa mau berbuat jika pakem ayahku
pun sudah melonggar dari pegangannya. Jika raga ayahku masih terlihat
sekarang, apa ayah juga akan melonggar dari pegangannya seperti kepala
dusun itu? Berlama – lama aku merenung tak juga kutemukan ide.
Masyarakat dusun tetap banyak menolak memelihara ternak. Kesejahteraan
duniawi yang diberikan perusahaan sawit itu mengalahkan kesejahteraan
rohani jangka panjang.
Esoknya aku pulang dengan kekalahan. Kubeli lagi beberapa babi sebagai haidah pada beberapa masyarakat yang mengikuti arahanku.
Aku
kembali kesini, delapan bulan lalu. Kemanapun kakiku melangkah, jalanku
pulang adalah kesini. Cianjur. Dua bulan setelah kepulanganku perluasan
lahan sawit sesuai rencana. Beberapa bulan berselang, kampung yang
pernah kuinjak tanahnya sekarang rata dengan tanah. Tergerus banjir
bandang. Pemerntah melakukan investigasi palsu, mencari alasan pura –
pura. Mengalihkan sebab dari perluasan kelapa sawit ke tanggul yang
sengaja dirobohkan sebagai kambing hitam alasan banjir bandang.
Aku
pergi kemanapun proyek pembanyaian lahan dan perusakan lingkunga
terjadi. Berdialog dengan satu – persatu pohon, mempertimbangkan
perasaannya dan menyelidiki resikonya. Terutama proyek – proyek adi daya
kerajaan perusahaan adam. Selama kakiku masih menginjak tanah dimanapun
proyek hendak dilakukan, aku tahu Adam tak akan berani berbuat. Menjadi
kuat kadang terlalu melelahkan.
Kita tak selalu
menang, dan aku sering kalah. Mungkin nilai kemenanganku terlalu tinggi.
Aku baru akan menang ketika manusia cukup puas dengan apa yag sudah
mereka rusak hari ini. Tak perlulah regenerasi jika pembantaian
ekosistem, pencemaran udara, penebangan pohon dengan jumlah yang
konsisten. Tanggung jawab dan amanah ayahku akan lebih mudah dijalani.
Aku lelah dan terlalu kecewa terhadap semua yang telah ayah dan aku
usahakan selama ini. Maka aku hanya akan hidup sederhana, dengan
tanggung jawab maha daya, wujud cinta maha besar terhadap yang telah
kita miliki saat ini. Mengeyampingkan hal – hal remeh yang menyinggung
jalanku. Cinta maha daya sekarang bertuan pada alam semesta, sedangkan
cinta adam dan hawa biarlah semesta punya rencana tentang bagaimana
sepasang mata bisa saling menemukan.